Jumat, 21 September 2012


JURNAL DALAM KAJIAN METODE OBSERVASI
JURNAL 1:
REALITAS  CINTA DIMATA REMAJA PEREMPUAN
Studi Kasus Sindrom Cinta pada Seorang Perempuan Remaja Pasca Film ‘ Ada Apa Dengan Cinta’. Jurnal ini membahas tentang persepsi cinta dikalangan remaja setelah menonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC).

Landsan teori

Mass media effects memperkenalkan sebuah konsep yaitu perceived reality. Perceived reality adalah ukuran seberapa jauh anak – anak menerima apa yang mereka lihat di televisi sebagai hal yang nyata atau reflektif terhadap hidup mereka (Jeffres, 1997:185) 

Media massa :Denis McQuail menyatakan peranan media massa dalam perkembangan remaja adalah (dalam Rakhmat, 1994:52,72) cermin yang memantulkan citra remaja terhadap remaja itu sendri dan memiliki fungsi sebagai pembentuk identitas pribadi.

Melek Media :Kesadaran akan media adalah sebuah sudut pandang yang digunakan khalayak secara aktif ketika terekspos oleh media dalam rangka menafsirkan arti pesan – pesan yang kita temui (Potter, 2001:4).

Teori Kultivasi, melibatkan proses belajar dan kontruksi dari pandangan menganai realita sosial yang bergantung pada keadaan pribadi dan pengalaman setiap individu dan juga keanggotaan dalam kelompok. Ia juga dilihat dalam proses interaktif antara pesan dan khalayaknya.

Responden penelitian:
ž  Perempuan usia 18 tahun
ž  Studi Kasus à wawancara, pengamatan langsung, studi lapangan, dengan tujuan merekonstruksi dan menganalisis sebuah kasus dari perspektif sosiologi.
ž  Subjek Penelitian: Penonton/penikmat film Ada Apa Dengan Cinta dan film lain dengan gender remaja
ž  penikmat musik pop remaja dan sinetron remaja, dan lingkungan pergaulan yang populer.

 HASIL PENELITIAN
ž  Realitas Cinta AADC dan informan
ž  Sindrom Cinta : Penerapan Teori Kultivasi
ž  Khalayak Pasif : Teori Resepsi

ž  Jika Khalayak Buta Media: subjek menyerap informasi yang masuk dari media, tanpa menyaringnya terlebih dahulu.

Interpretasi
ž  Sebagai anak remaja yang masih berusia 18 tahun, informan memang masih mengalami kelabilan dalam menentukan karakter dirinya. Secara psikologis, aspek kognitif dalam dirinya memang masih mengalami pancaroba, sebuah masa ketika dirinya masih mencari kepastian akan wujud dan jati diri. Ini membuat informan menjadi lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan, baik yang datang dari keluarga, sekolah, teman sepermainan maupun dari media.



JURNAL 2:
POST TRAUMATIC GROWTH PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA
Jurnal yang dibuat oleh Ade Fitri Rahman dan Erlina Listianti Widuri.
Pendahuluan
            Dalam jurnal tersebut bertujuan untuk mengetahui dinamika post traumatic growth atau pertumbuhan pasca trauma menuju perbahan hidup yang positif dan ingin memahami lebih jauh lagi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya post traumatic growth pada penderita kanker payudara.
 
Analisis
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan mengguanakan paradigma fenomenologi. Menurut Moleong (2005), metode penelitian kualitatif dalam paradigma fenomenologi berusaha mamahami arti (mencari makna) dari peristiwa dan kaitan-kaitannya dengan orang-orang biasa dalam situasi tertentu.
            Alasan peneliti menggunakan metode kualitatif karena penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gejala secara holistic kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri penulis sebagai instrumen kunci. 

Metode
Observasi yang dilakukan oleh penelti adalah non partisipan, penulis hanya sebagai pengamat tanpa terlibat dalam kehidupan maupun kegiatan informan. Observasi dilakukan diluar proses wawancara dan juga selama wawancara berlangsung yang memungkinkan penulis memperoleh data yang sifatnya non verbal, antara lain: gerakan tubuh, mimik muka, ekspresi wajah, dan intonasi suara informan saat wawancara serta juga tentang bagaimana kondisi informan penelitian yang dalam hal ini adalah penderita kanker payudara.

Hasil dan interpretasi
Secara teoritis, konsep pertumbuhan masa trauma didefinisikan sebagai pengalaman perubahan positif yang signifikan timbul dari perjuangan dari krisis kehidupan yang besar antara lain: apresiasi peningkatan hidup, pengaturan hidup dengan prioritas baru, rasa kekuatan pribadi meningkat dan spiritual berubah secara meningkat dan spiritual berubah secara positif.
            Spiritualitas dalam konteks ini mengacu pada rasa bersyukur yang lebih besar kepada Sang Pencipta, peningkatan rasa komitmen seseorang kepada tradisi keagamaan, atau pemahan yang lebih jelas dari keyakinan agama seseorang.

JURNAL 3.
MITOS TENTANG KEHAMILAN
Pendahuluan
¨  Ada beberapa pantangan yang di percayai oleh sebagian masyarakat umum yang diyakini sebagai larangan yang harus di hindari pada ibu hamil. Apabila di jalankan larangan tersebut¸ maka diyakini akan berdampak negatif pada diri ibu hamil dan janin yang di kandungnya.
Kajian teoritik
¨  Mitos adalah sistem kepercayaan dari suatu kelompok manusia, yang berdiri atas sebuah landasan yang menjelaskan cerita-cerita yang suci berkaitan dengan masa lalu. mitos yang dalam arti asli sebagai kiasan dari zaman purba merupakan cerita yang asal usulnya telah dilupakan, namun ternyata pada zaman sekarang mitos merupakan cerita yang dianggap benar (Harsojo, 1988).
¨  Kehamilan adalah rangkaian peristiwa yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm (Guyton, 1997).
Metode
¨  Penelitian yang dilakukan dalam jurnal menggunakan metode wawancara dan observasi. Respondennya wanita wanita hamil 3 bulan tanggal 7 Agustus 2008 dan wanita hamil tanggal 25 Agustus 2008.
¨  Penelitian dilakukan dengan Observasi Sistematik Natural dan Partisipan, peneliti sudah menyiapkan hal dan peralatan untuk di observasi dan peneliti langsung terjun kelapangan yaitu di daerah Aceh.
¨  Gejala sosial ini sangat mudah dilakukan pengamatan (observasi) atas segala fakta yang ada. 

¨  Berdasarkan hasil observasi dan wawancara membuktikan bahwa:
¨  Mitos masih sangat berpengaruh didaerah Aceh, dimana ibu-ibu yang hamil masih menjalankan tradisi yang menyertai proses kehamilan. Mereka mempercayai bahwa mitos merupakan pengetahuan turun temurun yang diwariskan dan berkembang sebagai konsep kebudayaan dan tradisi yang berlaku hampir di sebagian besar masyarakat, yang pada akhirnya mampu membentuk pola perilaku yang menetap yang harus mereka laksanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar