Jumat, 02 Agustus 2013



Mimpi dari Sudut Pandang Islam
Dengan menggunakan pandangan  dunia islam, kita memanfaatkan pandangan murni al-Qur’an dan al-Hadits, khazanah pemikiran Islam masa lalu-masa kini, khazanah ilmu pengetahuan barat dulu dan kini menjadi informasi yang kita sinergikan. Berdasarkan berbagai pandangan yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits ditemukan bahwa mimpi terdiri atas mimpi fisik, mimpi psikologis, dan mimpi spiritual. Setiap ragam mimpi memiliki subjenis, yang berupaya menggabungkan berbagai pandangan yang selama ini dikenali oleh ilmu pengetahuan. Dalam mimpi psikologis terdapat mimpi harapan, mimpi buruk yang bersumber dari pengalaman buruk, dan seterusnya.
Dalam perspektif islam, pendapat yang menyatakan bahwa seseorang bermimpi semata-mata faktor fisik dan psikologis memperoleh sanggahan dari banyak kalangan, terutama para ahli dan tokoh agama serta ahli parapsikologi. Ahli-ahli dan tokoh-tokoh agama menemukan bahwa dalam berbagai teks kitab suci ditunjukan adanya tokoh-tokoh sejarah, terutama nabi-nabi, yang bermimpi dan isi mimpinya merupakan isyarat masa depan sekaligus  pengetahuan kehidupan masa lalu. Dalam islam dikenal apa yang disebut sebagai mimpi yang benar (al ru’ya al-shadiqah, al-ru’ya al-haqq).
Hadis Nabi Muhammad saw.
“Tidaklah ada kenabian kecuali mubasysyirat (kabar gembira). “para sahabat bertanya: “apakah mubasysyirat itu?” beliau bersabda: “Mimpi yang benar.”  (HR. Abu Hurairah).
Hadits di atas menandaskan bahwa masih tersisa ciri kenabian (nubuwat) pada diri manusia, yaitu bila ia memiliki mimpi yang benar. Dari sana dapat dirumuskan bahwa mimpi yang benar adalah mimpi nubuwat.
Para tokoh dan ahli agama juga mengungkapkan bahwa dalam kehidupan masyarakat sudah biasa dilakukan apa yang disebut shalat istikharah, yaitu shalat yang dimaksudkan untuk memperoleh petunjuk dari allah azza wa jalla tentang pilihan-pilihan  hidup. Sesudah shalat istikharah biasanya seseorang tidur. Salah satu hal yang diharapkan dari shalat istikharah adalah mendapatkan mimpi yang berisi petunjuk tentang siapa jodoh mereka. Dalam kenyataanya, berbagai macam bukti menunjukkan bahwa dengan istikharah akhirnya dihasilkan mimpi yang berisi kejadian yang benar-benar berlangsung di belakang hari.
Tidak kurang dari itu, ahli-ahli parapsikologi juga mengungkapkan berbagai fakta yang menunjukan bahwa pada sebagian manusia kemampuan prekognisi merupakan kemampuann yang banyak ditopang oleh mimpi. Pengetahuan seseorang tentang apa yang bakal terjadi dan bahkan juga antisipasi terbaik apa yang harus dilakukan biasa diperoleh melalui mimpi, di samping diperoleh melalui pemecahan masalah atau melalui ilham.   
Yang menarik adalah banyaknya fenomena ahli-ahli agama atau orang-orang yang terkemuka dalam beragama yang memiliki mimpi yang mengandung isyarat-isyarat spiritual, termasuk pengetahuan di masa depan (mimpi prediktif), kehidupan masa lalu (mimpi retrospektif), petunjuk hidup, dan peringatan hidup. Sebagai misal, setiap kali berusaha memperoleh jawaban atas pernyataan intelektualnya Ibnu Sina selalu menyelingi kegiatannya dengan melakukan shalat sunnat. Ternyata, banyak bermunculan ide, pengetahuan, dan petunjuk dalam mimpi selama tidurnya.
Bukan hanya ahli agama, para pelajar atau santri juga banyak yang memiliki mimpi yang mengandung isyarat masa depan. Salah satu contoh orang yang pada santrinya banyak mengandung isyarat masa depan. Salah satu contoh orang yang pada santrinya banyak  memperoleh mimpi adalah Hidayat Nur Wakhid, dosen IAIN Jakarta. Diceritakannya bahwa sewaktu belajar ilmu agama dan menempa diri di pondok pesantren, Wakhid banyak menemukan mimpi yang isinya adalah soal-soal yang bakal diberikan pada waktu ujian esok harinya. Dalam kenyataannya, apa yang ditemukan dalam mimpi benar-benar ditemukan dalam ujian yang nyata.
Kemudian, sebuah hadits Nabi Muhammad menunjukan bahwa ada mimpi baik dan ada yang mimpi buruk.
Mimpi itu  ada tiga macam, yaitu mimpi produk psikis, mimpi bisikan setan, dan mimpi yang berisi berita gembira dari allah. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)  
Salah satu contoh rekonstruksi teori dalam psikologi Islami adalah menjelaskan mimpi terdiri atas mimpi jasmani (fisik), mimpi nafsani (psikologis), dan mimpi ruhani (spiritual). Istilah yang mirip dengan pembagian mimpi oleh Subandi (1997) yang menggunakan istilah mimpi fisik, mimpi psikologis, dan mimpi spiritual.
Masih ada mimpi yang lain: mimpi yang berisi gema masa lalu, mimpi yang terjadi karena kelelahan/sakit fisik, mimpi yang terjadi karena kemasakan (mimpi  basah). Setelah mencermati semua jenis mimpi, maka dapat disimpulkan mimpi terdiri atas mimpi jasmani (mimpi baik yang bersifat jasmani, mimpi baik karena stimulasi lingkunagn fisik saat tidur, mimpi buruk karena stimulasi lingkungan yang buruk, mimpi karena kelelahan/sakit, mimpi karena kemasakan fisik), mimpi nafsani (gema ingatan masa lalu, kondisi perasaan-pikiran menjelang tidur, harapan), dan mimpi ruhani (mimpi retrospektif, prediktif, petunjuk, peringatan, dan kuat, serta mimpi yang berasal dari setan).
Tiga penggolongan tersebut bersumber dari struktur jiwa manusia. Tiga struktur jiwa digunakan  Nurcholis Madjid (Nashori, 2002) yaitu jasad, nafsu, dan ruh. Dari sanalah diturunkan jenis-jenis mimpi. Secara umum, mimpi dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu mimpi taraf jasmani/fisik, mimpi taraf nafsani/psikologis, dan mimpi taraf ruhani/spiritual (Subandi, 1997; Fuad Nashori, 2002).
Jenis-jenis mimpi                                 Ragam mimpi                                      Sumber mimpi
                                                Mimpi baik                                          Kondisi fisik (Nyaman)
                                                Mimpi baik                                          Kondisi lingkungan (+)
Mimpi Jasmani                        Mimpi buruk                                       Kondisi fisik internal
(Mimpi fisik)                                                                                       (kelelahan/sakit)
                                                Mimpi buruk                                       kondisi lingkungan (-)
                                                Mimpi basah                                        Kondisi fisik

                                                Mimpi gema masa lalu                        Kondisi psikologis
Mimpi nafsani                         Mimpi peristiwa/ pengalaman             Kondisi psikologis
(mimpi psikologis)                   Yang baru
                                                Mimpi harapan                                    Kondisi psikologis

                                                Mimpi benar: prediktif                        Allah
                                                Mimpi benar: retrospektif                   Allah
Mimpi ruhani                           Mimpi benar: petunjuk                        Allah
(Mimpi spiritual)                     Mimpi benar: peringatan                     Allah
                                                Mimpi benar: pengetahuan                  Allah, setan
                                                Mimpi benar: kuat                               Allah, setan
                                                Mimpi buruk                                       Setan

Jumat, 28 September 2012


KECEMASAN
Dalam perspektif sigmund freud, dia membagi kecemasan dalam 3 kategori, yaitu:
·         Realita anxiety
Rasa takut terhadap bahaya yang nyata dalam dunia eksternal.

·         Neurotic anxiety
Rasa takut bahwa insting-insting akan diluar kontrol dan menyebabkan seseorang akan melakukan sesuatu yang akan membuat seseorang dihukum.

·         Moral anxiety
Rasa bersalah ketika melakukan sesuatu atau berpikir tentang sesuatu yang berlawanan dengan aturan-aturan moral.

Ketika ego tidak dapat mengatasi kecemasan dengan metode-metode yang rasional, maka:
Ø  Ego mundur ke metode-metode yang realistik
Ø  Defence mechanisme dari ego.

Namun begitu, menurut saya freud tidak secara eksplisit dan gamblang mendefinisikan arti kecemasan itu sendiri, dan bagaimana simptomnya yang muncul. Misal, keringetan, gemetaran, dan lain-lain.

sumber berdasarkan dari materi kuliah psikologi kepribadian 1

KUMPULAN JURNAL DALAM METODE OBSERVASI

ANALISIS JURNAL 1
KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA
OLEH: BAYU WICAKSONO
Latar Belakang
¨  kohesivitas adalah bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari sebuah kelompok. Kohesivitas adalah hal yang paling mendasar namun juga yang paling besar pengaruhnya. Adanya kelompok belum tentu memiliki sebuah kohesivitas yang tinggi, namun dengan adanya kohesivitas yang tinggi sangat mudah menciptakan kelompok yang kuat. 
Masalah Penelitian
¨  1. Bagaimanakah kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania?
¨  2. Faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil TheJakmania?
Tujuan Penelitian
      untuk mengetahui bagaimanakah kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania.
      Ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil TheJakmania
Manfaat Penelitian
¨  Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kelompok The Jakmania memiliki bentuk kohesivitas seperti aktifitas kelompok dalam komunitas, aktifitas kelompok kecil, proses pengambilan keputusan, identitas kelompok, kohesivitas kelompok di luar lapangan, kohesivitas kelompok di lapangan.
¨  Manfaat praktis
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kelompok The Jakmania khususnya bagi komunitas The Jakmania Kukusan dan secara umum untuk kelompok dan komunitas lainnya
                         


Landasan Teori
Kohesifitas
¨  Festinger dkk. (dalam Sarwono, 2005)menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah ketertarikan terhadap kelompok dan anggota kelompok dan dilanjutkan dengan interaksi sosial dan tujuan-tujuan pribadi yang menuntut saling ketergantungan.
¨  Walgito (2007) menyatakan bahwa kohesivitas kolompok adalah saling tertariknya atau saling senangnya anggota satu dengan yang lain dalam kelompok.
¨  Dengan demikian dapat disimpulkan kohesivitas adalah ketertarikan anggota-anggota dalam kelompok untuk melekat satu dengan yang lain agar menjadi sebuah kesatuan.

Suporter
¨  pendukung adalah seseorang yang secara sukarela ikut ambil bagian dalam mendukung sebuah teori, konsep, kegiatan.(Hornby, 2000)
¨  suporter  adalah orang yang memberikan dukungan, sokongan, dalam pertandingan. (Alwi, 2005)

Metode Penelitian
¨  Subjek Penelitian : Subjek adalah anggota The Jakmania dan merupakan bagian dari kelompok The Jak Kukusan , Jumlah Subjek sebanyak 2 orang yang masih dalam satu kelompok pada komunitas The Jak Kukusan.
¨  Teknik Pengumpulan Data
  1.  Menggunakan teknik wawancara, tipe wawancara terbuka.
  2. observasi menggunakan teknik observasi partisipasi dimana peneliti terlibat  langsung secara aktif dalam objek yang diteliti sehingga memungkinkan informasi yang diperoleh dapat lebih maksimal dan diharapkan akan membantu dalam penelitian.

Pembahasan
¨   Faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas
  1. latar belakang kelompok yaitu teman nongkrong (jarak rumah yang berdekatan menyebabkan anggota mudah bertemu)
  2. kegiatan kelompok seperti main bola bareng (setiap anggota kelompok memiliki kegiatan sehari-hari bersama kelompok seperti main bola bareng dan aktivitas tersebutdapat meningkatkan kekompakkan)
kebersamaan kelompok seperti proses menumbuhkan keterikatan (pada saat berkumpul, anggota kelompok bercanda guraudan tertawa bersama sehingga aktifitas ini dapatmeningkatkan keterikatan antara anggota kelompok) 


JURNAL 2
EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN GOTONG ROYONG
(COOPERATIVE LEARNING) UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN
SISWA DALAM MENGHADAPI PELAJARAN MATEMATIKA
(Suatu studi Eksperimental pada Siswa di SMP 26 Semarang)
Novita Eka Indiyani, Anita Listiara
Program Studi Psikologi Universitas Diponegoro

Latar Belakang
l  Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap momok bagi sebagian
            pelajar, termasuk siswa SMP.
l  Anggapan negatif tersebut semakin berkembang dengan adanya kenaikan standar kelulusan, khususnya untuk nilai matematika, yang menyebabkan banyak siswa tidak lulus pada tahun 2004.
l  Salah satu faktor yang dapat berpengaruh buruk terhadap prestasi matematika siswa adalah kecemasan.
l  Berdasarkan hal ini peneliti tertarik untuk melakukan eksperimen untuk mengetahui apakah metode belajar tertentu dapat mengatasi kecemasan dalam belajar matematika.

Subjek
l  Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas 2 SMP 26 Semarang yang berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 16 orang.
Landasan Teori
l  Hurlock 1997 mendefinisikan kecemasan sebagai keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan, yang ditandai dengan kehawatiran, ketidak enakan, dan perasaan yang tidak baik, yang tidak dapat dihindari oleh seseorang.
l  Metode pembelajaran gotong royong (cooperative learning) didefiniskan sebagai suatu sistem kerja atau belajar kelompok yang tersetruktur yang mencakup saling ketergantungan  positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi personal, keahlian bersama dan evaluasi proses kelompok  (johnson & jhonson 1994)

Eksperimen
l  Pertama-tama siswa diberikan pretest yang berupa  skala kecemasan.
l  Kemudian siswa dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, pada kelompok eksperimen diberlakukan metode pembelajaran gotong royong, sedangkan kelompok kontrol tidak diberlakukan. Hal ini terjadi selama 4 kali pertemuan.
l  Setelah itu semua siswa diberi posttest yang sama berupa skala kecemasan seperti pada subtest awal.
l  Pada metode pembelajaran gotong royong, siswa duduk dikelompokkan, siswa diberikan tugas yang pengerjaannya secara berkelompok, tempat duduk siswa juga diatur menjadi beberapa kelompok yang saling berhadapan antar anggota kelompok tanpa harus berhadapan kearah meja guru.

Metode Penelitian
l  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan skala kecemasan.
l  Observasi yang dilakukan adalah observasi non-partisipan.

Hasil Observasi
l  Pada awal kelas dimulai belum banyak interaksi yang tercipta.
l  Setelah sudah mendapat instruksi soal, nampak adanya interaksi antar siswa dalam kelompok.
l  Siswa saling berbicara satu sama lain dalam kelompok sambil memegang kertas soal.
l  Siswa saling bertanya kepada teman kelompok.
l  Siswa terlihat melakukan interaksi antar kelompok.
l  Suasana kelas aktif dan riuh ramai.

JURNAL 3
KECEMBURUAN PADA KAUM HOMOSEKSUAL PRIA (GAY)
DI JAKARTA

Latar Belakang
*kasus Ryan (mutilasi)
*Hasil Observasi yang peneliti lakukan selama mengelola sebuah artist management
*Minoritasnya kaum gay.

Tujuan
Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai gambaran kecemburuan pada kaum gay di jakarta

Manfaat
Dapat mencegah rasa cemburu pada gay sehingga dapat dikembangkan upaya pencegahan terjadinya kasus kriminal pada kaum gay

Definisi dan Landasan teori
      Kecemburuan adalah bentuk lain dari pengalaman emosi negatif yang diakibatkan oleh hilangnya hubungan yang berharga terhadap objek yang di cemburui baik dalam keadaan nyata maupun imajinasi 
            (Salovey, 1991 dalam Miller, et al., 2007,)

      Hal yang  dapat mendapat mendefinisikan  kecemburuan àHurt & Fear
      Hurt: persepsi bahwa pasangan tidak  menghargai komitmen.
      Fear: dihasilkan  dari kemungkinan yang mengerikan, misalnya kehilangan pasangan.
(guerrero & andersen,1998 dalam miller et.al.2007)
      Menurut White, terdapat tahap-tahap kecemburuan. : ancaman,berpikir,reaksi emosional,coping.
Metode
      Metode yang digunakan adalah obervasi dan wawancara dengan menggunakan pendekatan kualitatif.  Metode wawancara sebagai metode pengumpulan data utama. Dan observasi digunakan sebagai penunjang  dalam berlangsungnya kegiatan wawancara.
      Responden berjumlah 3 orang yang berjenis kelamin laki-laki,memiliki orientasi homoseksual, usia dari 20-40 tahun,sudah pernah melakukan hubungan seksual, pendidikan minimal SMA, dan berdomisili dijakarta dan sekitarnya
Observasi
      Metode Observasi yang digunakan adalah observasi non-partisipan
      Observer mengamati saat wawancara berlangsung
      Pengambilan data juga ditunjang dari hasil observasi salah satu peneliti sebelum penelitian ini di buat
Hasil
Seputar homoseksual:
Ketiga subjek menyadari orientasi seksual nya sejak usia remaja.
      Subjek 1 menyadari ketertarikannya sesama jenis sejak usia 10 tahun, subjek 2 menyadari ketika 16 tahun, dan subyek 3 menyadari sejak usia 15 tahun. Dari ketiga subyek. Dua subjek tersebut ketika menjawab terlihat nafasnya lebih terpacu lebih cepat. Pada subjek ketiga terlihat genggaman tangan memguat/mengepal.
Seputar kecemburuan:
         keseluruhan subyek mengalami hurt (luka), fear and anxiety (takut dan cemas). Sedangkan untuk anger (marah), hanya subyek 2 dan subyek 3 yang mengalaminya.
         2 tipe kecemburuan yaitu Reactive jealousy & Suspicious jealousy